Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kegusaran Hadir Kala Italia Lambat Bangkit dari Karantina Panjang Covid-19

italian flag tricolore, a doctor, and question will Italy win against Covid-19?

Italia merupakan negara Eropa dengan masa karantina paling panjang, namun ketika negeri ini memasuki fase kedua yang diharapkan besok, hanya sedikit warga yang manyambutnya.

Minggu lalu setelah Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte, menguraikan rancangan untuk perlahan-lahan mengurangi periode karantina negara tersebut, jutaan orang diliputi rasa marah dan kekecewaan karena harapan mereka pupus dengan apa yang banyak disebut orang dengan "pembukaan kembali yang palsu."

Warga Italia saat ini bisa melakukan perjalanan antar daerah untuk mengunjungi kerabat, asalkan mereka menggunakan masker. Tetapi sekolah-sekolah, salon, gym dan aktifitas perdagangan lain tetap ditutup; Kafe-kafe dan restoran hanya akan menawarkan take away; dan semua perjalanan antar wilayah akan dilarang kecuali untuk bekerja, masalah kesehatan atau situasi gawat darurat. Pembatasan untuk pemulasaran telah dilonggarkan dengan jumlah pelayat yang hadir maksimal 15 orang, tetapi misa dan pesta pernikahan harus menunggu.

Karena aturan ini, Jumat lalu, Pietro Demita, seorang stylist pemilik perusahaan desainer gaun pengantin terkemuka di Lecce, membakar seluruh koleksinya sebagai protes terhadap karantina yang telah membuat industri pernikahan hampir mati.

"Saya menurunkan ciptaan saya, buah dari bakat dan keahlian saya, untuk mengirimkan pesan keras," kata Demita pada Observer. "Karena, meskipun saya tidak melakukannya, keputusan ekonomi dan politik yang dipaksakan selama krisis corona virus tetap membuat koleksi saya berdebu."

Harapan warga sangat tinggi untuk segera kembali pada aktifitas normal, khususnya mereka yang berada di Selatan, dimana hanya sedikit kasus Covid-19 ditemukan dibandingkan bagian Utara. Suasana sangat suram. Tidak hanya dikarenakan virus (yang masih menelan korban jiwa meskipun angka positif telah berkurang) tetapi juga karena warga sudah gelisah setelah dipaksa diam di rumah selama lebih dari 50 hari.

"Sepertinya mereka menertawakan kami," kata Contantino Montalbano,31, seorang penata rambut di Palermo. "Seolah-olah mereka menyuruh kita pergi tetapi tetap berada di rumah. Selama ini, Karantina tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental kami tetapi juga perekonomian kami. Jika kami tidak kembali pada rutinitas segera, virus corona tidak hanya membunuh ribuan orang tetapi ekonomi secara keseluruhan."

Seperti Bar dan restoran, salon-salon harusnya mulai beroperasi penuh pada tanggal 1 Juni. Museum dan toko retail mulai buka dari tanggal 18 Mei. Pabrik sudah mulai melakukan ekspor dan proyek pekerjaan umum telah melanjutkan aktifitasnya mulai hari Senin lalu, sementara mayoritas industri Italia akan dimulai kembali besok. Namun, karena negara ini terjerumus ke dalam resesi, banyak pengusaha dan pemilik toko mengeluhkan kurangnya dukungan finansial.

Dengan semakin dekatnya musim panas, para ahli memprediksi pengaruh Covid-19 pada sektor pariwisata, salah satu sektor terpenting negara ini, akan sangat buruk. Menurut Konfederasi untuk Seniman dan Bisnis Kecil dan Menengah Nasional Italia, dalam rentang Bulan Juli dan September Italia akan kehilangan 25 juta wisatawan manca negara. Risikonya adalah bahwa ribuan hotel, resor, dan B&B akan dipaksa untuk menutup pintu mereka di masa mendatang.

Bar dan Restoran merupakah urat nadi ekonomi dari banyak kota-kota Italia tetapi ribuan berkumpul dalam protes melawan pembukaan kembali, merasakan pembatasan dari kebijakan social distancing pasca-karantina dapat memberi akhir bagi banyak usaha.

Sebagai bagian dari serangkaian gerakan simbolik yang diorganisasi oleh gerakan bernama Movimento Imprese Ospitalita (MIO)/Pergerakan Bisnis Perhotelan, 75,000 pemilik bar dan restoran menghidupkan lampu di tempat-tempat mereka untuk menandai hari terakhir bisnis Selasa malam kemarin sebelum memberikan kunci pada walikota masing-masing di pagi berikutnya. Pada Jumat malam, mereka mematikan lampu di rumah masing-masing selama satu jam.

Seorang pemilik bar di Milan memprotes kebijakan pembatasan baru coronavirus.
Seorang pemilik bar di Milan memprotes kebijakan pembatasan baru coronavirus. Foto: Roberto Finizio/Getty Images

Paolo Bianchini, pemilik restoran di Viterbo, Lazio dan juru bicara MIO menyatakan protes damai yang dilakukan untuk menunjukkan bagaimana perjuangan sektor perhotelan. "Kami hanya ingin buka ketika kami tahu kami akan dapat bekerja secara efisien," lanjutnya. "Contohnya, restoran saya memiliki 100 meja - dengan social distancing jumlah ini berkurang menjadi 30. Jika saya menjalankan bisnis dengan volume kecil, restoran saya akan tutup. Karena saya tidak dapat menutup beban operasional. Sebaliknya kami akan gagal jika kami buka. Kami butuh likuiditas - bagaimana negara-negara yang serius seperti Inggris bisa mengelola bantuan untuk pemilik bisnis tetapi Italia tidak mau membantu?"

Selama debat di Senat kamis lalu, kelompok oposisi menekan Conte. Mantan Perdana Menteri Matteo Renzi, yang menyerukan kurangi pembatasan dalam pembukaan kembali, mencatat, "Masyarakat Bergamo dan Brescia yang meninggal, mereka meninggal karena virus, jika mereka bisa bicara, mereka akan menyampaikan pada kita untuk membuka negeri kembali untuk mereka, untuk mengenang mereka."

Pernyataan kontroversial Renzi dikritik keras oleh dokter yang memperingatkan penyebaran penyakit ini, yang pada Kamis lalu, telah membunuh hampir 30,000 orang di negara tersebut dan menginfeksi lebih dari 205,000 orang lain, belum berakhir dan kebijakan yang keliru akan menyebabkan seluruh negeri kembali mengalami level corona virus di pertengahan Maret.

"Kita akan mengalami resiko gelombang baru infeksi dan wabah jika kita tidak berhati-hati," sebut Tullio Prestileo, seorang spesialis penyakit infeksius dari Rumah sakit Benefratelli di Palermo. "Jika kita menyadari kondisi ini, kita dapat dengan mudah mendapati diri kita kembali ke tempat kita mulai. Dalam hal ini, kita mungkin tidak akan kuat untuk bangkit lagi."

Sumber: Guardian

Post a comment for "Kegusaran Hadir Kala Italia Lambat Bangkit dari Karantina Panjang Covid-19"